Fiksi Lotus: Kumpulan Kisah Klasik yang Menggelitik
Sebuah postingan tentang buku berjudul “Fiksi Lotus” lewat di beranda Instagram-ku waktu itu. Sayangnya, ketika hendak mengeklik dan membaca kepsyen-nya, halaman Instagram tiba-tiba me-refresh sendiri dan postingan itu lenyap. Aku melongo.
Siapa sangka, hilangnya postingan tersebut tak serta-merta menghapus frasa “Fiksi Lotus” yang kadung menempel di pikiranku.
Aku memikirkan sebuah bunga teratai. Besar dan berwarna ungu.
Lagi, kukira buku itu pasti bercerita tentang bunga teratai. Aku yakin. Kemudian, alangkah malunya aku karena rupanya tebakan itu sungguh-sungguh salah. Tak satu fragmen pun mengisahkan tentang teratai.
Apa itu Fiksi Lotus?
Fiksi Lotus adalah judul sebuah kumcer yang di dalamnya berisi cerpen-cerpen klasik karya para penulis internasional. Empat belas cerita pendek karya 14 penulis kenamaan dunia: Ernest Hemingway, Stephen Crane, Franz Kafka, Dorothy Parker, O. Henry, Naguib Mahfouz, Anton Chekov, John Collier, Shirley Jackson, Walter De La Mare, William Somerset Maugham, Bjørnstjerne Bjørnson, Saki, dan Jean-Paul Sartre disandingkan dalam satu buku kumpulan cerpen.
Buku berkover merah tua ini diterbitkan pertama kali oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2012, yang proses penerjemahan dan penulisannya digagas oleh Maggie Tiojakin, seorang penulis berkebangsaan Indonesia. Maggie sendiri adalah seorang jurnalis, narablog, yang telah merilis beberapa karya sastra. Tak hanya itu, Maggie juga aktif dalam kegiatan penerjemahan literatur-literatur berbahasa Inggris.
Cerita punya cerita, asal-usul judul utama buku ini, Fiksi Lotus, ternyata diambil dari nama blog pribadi milik Maggie, fiksilotus.com . Blog tersebut memuat banyak kisah-kisah pendek yang diterjemahkannya sendiri dari literatur-literatur klasik dunia.

Kumpulan Cerita yang Sederhana sekaligus Apik
Cerpen-cerpen klasik yang ada dalam kumcer ini rata-rata diterbitkan pada tahun 1900-an awal, di berbagai media massa yang beredar pada era tersebut. Tema-tema yang diangkat dalam cerita adalah sisi paling dekat dengan kehidupan. Ditulis dengan baik, diterjemahkan dengan apik, kumcer ini berhasil memberikan sebuah gambaran umum tentang kehidupan orang-orang di masa itu. Tentang anak-anak, kisah percintaan, kehidupan seorang penjaga kafe, seorang tahanan eksekusi mati, cerita tentang dua perempuan yang bergosip.
Jujur saja, aku tentu tak memiliki keahlian khusus dalam menganalisis kumcer ini berdasarkan kajian sastra maupun linguistik. Namun, sebagai pembaca, aku mengakui bahwa cerita-cerita klasik, lewat cara yang sederhana, juga memiliki power untuk tampil memukau, menyentuh benak pembaca. Tanpa perlu plot yang berbelit-belit, juga karakterisasi yang aneh-aneh.
Satu karya Dorothy Parker misalnya. Karya berjudul “Dering Telepon” ini mengisahkan tentang kegundahan hati seorang perempuan yang sedang menunggu telepon dari satu lelaki yang telah memanggil dia dengan sebutan “Sayang” sebanyak dua kali. Gara-gara galau, perempuan itu tak henti-hentinya mengucapkan doa, bermonolog dengan Tuhan, dan terus-menerus menjanjikan kebaikan bilamana dering telepon yang diharapkannya itu terdengar.
Cerita ini adalah salah satu cerita favoritku dalam kumcer ini.
Alasannya?
Ketika membacanya, jiwa keperempuananku terasa sedang diinterogasi bulat-bulat. Sebuah rahasia yang kupendam dalam-dalam, eh, ternyata dibeberkan sejelas-jelasnya dalam rangkaian sekian ribu kata “Dering Telepon”. Perempuan yang jatuh cinta karena panggilan sayang. Lalu, bertingkah obsesif dan mendadak overthinking.
Sungguh lucu lagi saat mengetahui fakta bahwa cerita tersebut ditulis pada tahun 1930.
Secara tak langsung, cerita ini seolah-olah menyiratkan bahwa sejak dulu seperti itulah perempuan: selalu dibuat pusing oleh drama yang dia ciptakan sendiri di dalam kepalanya.
Itu baru “Dering Telepon”.
Bagaimana dengan tiga belas cerita lainnya?
Tidak kalah memesona; tidak kalah memikat.[]