Anne of Green Gables: Si Gadis Berambut Merah yang Menemukan Kebahagiaannya
Aku masih ingat jelas perasaan di hari itu, ketika mataku menangkap sebuah buku bersampul hijau muda yang bertuliskan nama Anne, dari Green Gables.
Hmm, siapa dia, si Anne ini?
Nah, apa pula itu Green Gables?
Aku sempat mematung di depan rak kategori novel klasik selama sekian menit. Kutatap Anne. Kutatap “kawan sebelahnya”. Kutatap lagi ke Anne.
Ah, pesona sampul hijau itu sungguh tak bisa kuabaikan. Dalam pikiranku, si hijau ini mirip-mirip kampanye ecogreen yang memikat hingga membuatku sulit berkata tidak.

Siapa Anne?
Anne adalah seorang anak perempuan yang terlahir dari keluarga sederhana. Nyaris miskin. Dia menjadi yatim piatu di usia yang sangat muda. Hidup tanpa saudara sekandung, diadopsi oleh bergonta-ganti orang, dipekerjakan tanpa gaji, lalu berujung tinggal di sebuah panti asuhan dengan kehidupan yang makin sulit. Bahkan pakaian yang dikenakannya pun adalah pakaian usang nan kekecilan. Duh, tokoh jenis apa lagi yang sebenarnya sedang kubaca itu.
Pada awalnya, kukira aku akan menemukan anak perempuan pemurung yang selalu mengeluh akan jalan hidupnya. Namun rupanya salah. Untungnya tidak begitu. Anne Shirley yang baru kukenal itu adalah seorang anak perempuan ceria yang tidak kehilangan semangat romantismenya dalam berimajinasi. Dia suka menanyakan banyak hal, berkomentar dan berbicara tentang apa saja. Bahkan, seringkali semangatnya itu menimbulkan kejengkelan bagi orang-orang di sekelilingnya.
Anne of Green Gables adalah sebuah novel klasik yang dituliskan oleh Lucy Maud Montgomery pada tahun 1908. Dikisahkan, Anne Shirley, pada hari itu secara tidak sengaja diadopsi oleh adik-beradik Cuthbert, Marilla dan Matthew Cuthbert, petani paruh baya di sebuah kawasan bernama Green Gables. Pada awalnya, Matthew dan Marilla Cuthbert berencana mengadopsi seorang anak laki-laki berusia 11 tahun dari panti asuhan untuk membantu Matthew bekerja di lahan pertanian miliknya. Namun, siapa sangka, ketika menjemput ke stasiun kereta siang itu, yang ditemukan oleh Matthew Cuthbert adalah seorang Anne. Bukan anak laki-laki. Meski dilanda bingung, Matthew tetap membawa Anne ke Green Gables lantaran kasihan. Hari sudah menjelang gelap dan stasiun kereta sebentar lagi tutup.
Marilla, sempat berusaha meluruskan kesalah-adopsian tersebut, membawa Anne ke panti asuhan tempat asalnya. Akan tetapi, setelah melihat dan mengira-ngira situasi yang akan dihadapi Anne bila dia dikembalikan, Marilla dengan ketulusan hatinya kemudian memilih untuk mengajak Anne kembali ke Green Gables. Dia sungguh khawatir dengan kehidupan yang dijalani Anne bila terpaksa tinggal dengan Nyonya pengurus panti asuhan yang tampak sangat judes.
Hari itu, Marilla memutuskan untuk menjadi orang tua asuh Anne. Maka dimulailah perjalanan kehidupan Anne di Green Gables, perjalanan yang penuh “intrik” anak-anak, yang akhirnya berhasil mengubah Anne, si kecil yang dianggap nakal, menjadi Anne yang lebih dewasa.
Novel Klasik yang Mendunia dan Dicintai Pembaca
Dahulu, kukira novel klasik adalah novel-novel jadul yang ceritanya mungkin sangat tidak relate saat dibaca oleh orang-orang masa kini. Problematika yang diangkat dalam novel klasik bisa jadi sungguh berbeda. Tidak akan relevan. Masanya, kan, sudah tak sama lagi.
Rupanya, prasangkaku itu sungguh tak berdasar. Meski dikategorikan sebagai novel klasik, sosok Anne digambarkan terasa begitu nyata dan dekat. Ya, Anne yang suka berbicara dan bertanya hingga dianggap cerewet. Anne yang sungguh insecure karena penampilannya; rambut merah dan bintik-bintik di wajah. Anne yang suka mengimajinasikan cerita-cerita di dalam kepalanya. Anne yang selalu ceroboh dan seringkali melakukan kesalahan konyol.
Aku, pada awalnya tak terlalu menyukai Anne, yang saat berdialog panjangnya bisa mencapai dua halaman tanpa jeda. Ya, Allah, kok, ada anak yang cerewetnya macam ini?
Rupanya, makin lama, lambat laun aku jatuh cinta juga.
Anne itu periang, keras kepala, tapi baik. Dia pintar sekaligus ambisius. Namun, kadangkala berubah murung. Imajinasinya tak terbatas. Dia anak yang tak sempurna. Berulangkali melakukan kesalahan konyol tetapi tak menyerah untuk berubah menjadi lebih baik, meskipun kemudian berujung melakukan kesalahan konyol lainnya. Tak jarang, dia jadi frustrasi karena kekonyolan yang tak terkendali itu.
Saat kupikir-pikir lagi, kok, si Anne ini mirip sekali dengan diriku. Ketika kubaca-baca reviu dari berbagai situs, dari banyak orang yang telah “mengenal” Anne, ternyata mereka semua juga mengagumi novel ini. Anne berhasil menciptakan perasaan terhubung dengan diri pembaca. Jangan-jangan, Anne itu bukan hanya aku. Melainkan, bagaimana bila kita semua adalah Anne?
Worldbuilding yang Detail
Membaca novel Anne of Green Gables artinya membuka lembar demi lembar kreativitas Lucy Maud Montgomery, menyaksikan gambaran yang jelas tentang lika-liku kehidupan di Green Gables, di Avonlea, tentang orang-orangnya, lingkungannya, pemandangan indahnya, dan semua interaksi para tokohnya. Lucy Maud Montgomery sungguh lihai dalam hal menarasikan latar pada cerita ini. Rasa-rasanya, bila mampu, ingin aku terbang dan langsung mendatangi tempat itu sendiri. Terlalu indah dan tak cukup jika hanya dibayangkan dalam pikiran.
- Sebuah pohon ceri raksasa tumbuh di luar, begitu dekat sehingga dahan-dahannya bisa menyentuh rumah, dan begitu dipenuhi bunga bermekaran sehingga sulit untuk melihat dedaunan. Di kedua sisi rumah ada kebun yang luas, dengan pohon-pohon apel di satu sisi dan pohon ceri di sisi yang lain, juga dipenuhi bunga yang mekar; dan rumput di halaman dihiasi bunga dandelion yang bertebaran. Taman di bagian bawah ditumbuhi tanaman lilac dan bunganya yang berwarna ungu. Aroma harum tanaman yang memabukkan merebak di jendela, dibawa oleh embusan angin pagi.
- Di bawah taman itu, sebuah padang rumput hijau penuh tanaman semanggi yang menurun ke sebuah lembah, tempat sungai kecil mengalir dan sekumpulan pohon birch putih tumbuh, menjulang ke udara dari tanah yang dipenuhi pakis dan semak-semak, serta beberapa pohon lainnya. Di seberangnya ada sebuah bukit, hijau dan lembut dengan tanaman spruce dan cemara; ada sebuah celah yang memperlihatkan ujung loteng kelabu sebuah rumah kecil yang pernah dia lihat dari sisi lain Danau Riak Air Berkilau.
Membaca novel ini, Lucy Maud Montgomery memang pantas mendapatkan penghargaan atas kerja kerasnya karena tidak membatasi diri dan menghemat tenaga saat menulis. Buktinya, meski ditulis dengan tangan karena masa itu mesin ketik masih berupa barang langka, novel ini berhasil dibuat dengan deskripsi yang nyata, indah, dan sedetail mungkin, tidak pelit kalimat. Walau sudah berusia lebih dari satu abad, karya ini terus-menerus dicetak ulang dan masih bisa dinikmati oleh siapa saja. Tak hanya lewat media tulis, tapi juga merambah lewat film.
Inilah bukti bagaimana kekuatan tulisan bisa mengawetkan sebuah kisah bahkan hingga ratusan tahun lamanya.[]